Assalamualaikum Wr. Wb.
Bagaimana kabarnya sahabat semua? Semoga kita semua tetap berada dalam lindungan Allah Swt. Pada kesempatan yang berbahagia ini penulis akan membahas tentang masalah keluarga berencana (KB) dalam pandangan islam. Untuk lebih lanjutnya simak ya penjelasan dibawah ini! Semoga bermanfaat

Pengertian Keluarga Berencana (KB)
Secara umum keluarga berencana dapat diartikan sebagai usaha yang mengatur banyaknya jumlah kelahiran sedemikian rupa sehingga ibu maupun bayinya dan bagi ayah serta keluarganya atau masyarakat yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian sebagai akibat langsung dari kelahiran tersebut.
Secara khusus keluarga berencana dalam kehidupan sehari-hari berkisar pada pencegahan kosepsi atau pencegahan terjadinya pembuahan atau mencegah pertemuan antara sel mani dari laki-laki dan sel telur dari wanita sekitar persetubuhan.
Keluarga Berencana (KB) adalah sebuah program yang dicanangkan pemerintah dalam menekan kepadatan penduduk. Pengertian program Keluarga Berencana (KB) menurut UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1992, (tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Sedangkan pengertian program Keluarga Berencana (KB) menurut UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009, BAB I PASAL 1 AYAT 8 KETENTUAN UMUM (tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga) Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas.

Ayat-ayat Al-Qur’an Berkaitan dengan KB
Sungguh Allah dalam al-Qur-an telah menjadikan banyaknya keturunan sebagai anugerah (bagi manusia) dan menjadikannya termasuk perhiasan (kehidupan) dunia. Allah ta’ala berfirman:
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ
“Allah menjadikan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istrimu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik.”
(Qs. an-Nahl: 72)
Allah ta’ala juga berfirman:
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia.” (Qs. al-Kahfi: 46)
(Kemudian) barangsiapa yang memperhatikan pembahasan masalah ini (dengan seksama) dia akan mengetahui bahwa pendapat yang membolehkan untuk membatasi keturunan adalah pendapat yang bertentangan dengan kemaslahatan (kebaikan) umat Islam (sendiri). Karena sungguh banyaknya keturunan (kaum muslimin) termasuk sebab kekuatan, kemuliaan, keperkasaan dan kewibawaan umat Islam (di hadapan umat-umat lain). Sedangkan membatasi keturunan bertentangan dengan semua (tujuan) tersebut, karena menjadikan sedikitnya (jumlah) dan lemahnya kaum muslimin, bahkan menjadikan musnah dan punahnya umat ini. Ini adalah perkara yang jelas bagi semua orang yang berakal dan tidak butuh argumentasi (untuk membuktikannya).
Allah berfirman:
وكأين من دابة لا تحمل رزقها الله يرزقها وإياكم وهو السميع العليم
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-’Ankabuut: 60)

Hukum KB Menurut Hadits Nabi
Dari Ma’qil bin Yasar, berkata: seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. dan berkata: “Aku mendapatkan (calon) seorang perempuan yang memiliki status dan kecantikan, namun ia tidak bisa beranak, apakah aku boleh nenikahinya?” Nabi menjawab: “Tidak”. Kemudian datang lagi kedua dan datang lagi ketiga kalinya (untuk bertanya lagi). Lalu Nabi menjawab: “Nikahilah calon yang penyayang dan potensial beranak. Aku sungguh akan memperbanyak umat ini melalui kalian”. (HR. Abi Dawud, no. 2052).
Untuk memahami hadis ini tentu harus ditangkap inti masalahnya, yaitu jika seseorang hendak menikah, dianjurkan memilih calon yang penyayang, penuh kasih (wadud) dan berpotensi untuk memiliki anak (walud). Jika alternatifnya adalah memilih dengan calon pasangan yang (diduga kuat) tidak bisa punya anak, maka disarankan memilih calon yang berpotensi dapat memiliki keturunan. Dengan keturunan tersebut, Nabi saw. bermaksud menjaga keberlangsungan umatnya dengan jumlah yang banyak dan berkualitas, serta kuat secara jasmani dan ruhani.

Hukum Islam yang mendukung Pelaksanaan KB
Tetapi dalam al-Qur’an dan hadist ada ayat-ayat yang berindikasi tentang diperbolehkannya mengikuti program KB, yakni karena hal-hal berikut
Diantara ulama yang membolehkan program KB adalah Imam al-Ghazali, Syaikh al-Hariri, Syaikh Syalthut, Ulama yang membolehkan ini berpendapat bahwa diperbolehkan mengikuti program KB dengan ketentuan antara lain: untuk menjaga kesehatan ibu, menghindari kesulitan ibu, untuk menjarangkan anak, dll. Mereka juga berpendapat bahwa perencanaan keluarga itu tidak sama dengan pembunuhan, karena pembunuhan itu berlaku ketika janin mencapai tahap ketujuh dari penciptaan.

Dalam Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Saad bin Abi Waqqash :
إنك تدر ورثك أغنياء خير من أن تدرهم عالة لتكففون الناس (متفق عليه)
“Sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan dari pada meninggalkan mereka menjadi beban atau tanggungan orang banyak.”

Dari hadits ini menjelaskan bahwa suami istri mempertimbangkan tentang biaya rumah tangga saat keduanya masih hidup, jangan sampai anak-anak mereka menjadi beban bagi orang lain. Dengan demikian pengaturan kelahiran anak hendaknya dipikirkan bersama.
Sebenarnya tidak ada Hadits atau ayat-ayat Al-Qur’an yang melarang atau memperbolehkan KB secara “terang-terangan”, tetapi dalam Al-Qur’an dan Hadits ada ayat-ayat yang indikasinya memperbolehkan program KB, yaitu karena hal-hal berikut:
1. Menghawatirkan keselamatan jiwa atau kesehatan ibu. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 195 :
ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة (البقرة : 195)
“Janganlah kalian menjerumuskan diri dalam kerusakan”.
2. Menghawatirkan keselamatan agama akibat kesempitan penghidupan. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi:
كادا الفقر أن تكون كفرا
“Kefakiran atau kemiskinan itu mendekati kekufuran”.
3. Menghawatirkan kesehatan atau pendidikan anak-anak bila jarak kelahiran anak terlalu dekat sebagaimana hadits Nabi:
ولا ضرر ولا ضرار
“Jangan bahayakan dan jangan lupa membahayakan orang lain.

Jadi pada intinya islam tidak melarang untuk mengikuti program keluarga berencana asalkan dengan tujuan bukan untuk mengurangi jumlah anak. Sekian penjelasan pada kesempatan ini, mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan.
Wassalamualaikum Wr. Wb

Referensi:
Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNPAD. 1994. Teknik Keluarga Berencana. Bandung: Elstar Offset
Hanafiah, M. Jusuf dan Amri Amir. 2007. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
http://www.academia.edu/6567160/Keluarga_Berencana diakses pada tanggal 26 Februari 2015 pukul 21.40
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/cara-kb-yang-mudah-dan-sederhana.html diakses pada tanggal 24 Februari 2015 pukul 06.20